Selamat Jalan, Damay

22 Jan 2015

“Kok ada muka guenya?”

Damay bersungut ketika kutunjukan hasil foto yang baru saja kuambil dengan smartphoneku. Aku cuma bisa nyengir kuda menanggapi omelannya.

“Kirain mau ambil foto bunganya aja. Hapus, ah!” Pintanya kemudian.

“Ogah!” Sahutku.

Aku lalu berlari menghindar dan naik ke Menara Tele untuk melihat panorama Danau Toba dari ketinggian. Damay mengejar dan masih berusaha meraih handphone dari tanganku.

Ah, ya! Foto ini mengingatkanku pada kenangan itu. Lebih dari setahun lalu saat kami menghabiskan waktu 3 hari 2 malam untuk menjelajahi sebagian bumi Sumatra Utara. Dari Medan ke Prapat, lalu menyeberangi Danau Toba dan singgah di Pulau Samosir, hingga akhirnya kembali lagi ke Medan lewat Tongging, dan sempat mampir ke Air Terjun Sipiso-piso.

Damay seorang gadis periang. Dimana pun, keberadaannya selalu menjadi magnet yang menarik orang-orang di sekitarnya tersenyum bahagia. Dengan cerita-ceritanya tentang bunga matahari yang ia tanam di halaman kost-an, tentang rencana atau cerita-cerita seru saat backpacking, atau bahkan tentang aktor film India dan Korea.

Tuhan mempertemukan kami pada awal tahun 2013 lalu. Berawal dari sebuah event kepenulisan bersama Golagong New di Rumah Dunia, Serang. Ia jauh-jauh datang dari Medan ke Serang, demi untuk ikut event perdana yang diselenggarakan oleh komunitas yang baru menetas di akhir tahun 2012, Backpacker Koprol.

Damay menjadi peserta terjauh ketika itu. Yang lebih membuat kami, para panitia, peserta event, serta Gol A Gong sebagai master Travel Writer, lebih tercengang lagi, Damay tiba di Serang menjelang subuh dan naik taksi langsung dari Bandara Soeta. Sungguh, aku melihat sebuah niat dan perjuangan besar dari seorang Sweata Damay Shan.

Selain periang dan nekat, Damay yang tomboy itu dikenal memiliki watak yang keras, juga mandiri. Mungkin ini yang membuat ia tak memberi kabar kepada siapa pun bahwa ia terkena demam thypoid sejak September 2014. Jangankan teman-temannya, keluarganya di Bandung pun tak ia kabari.

Dalam kondisi sakit, Damay mengurus dirinya sendiri di rumah kost-an di Tanjung Balai, Sumatra Utara. Awal bulan Desember, kami, teman-temannya di komunitas Backpacker Koprol, terkejut mendengar kabar dari Melva Kristin Tobing, teman kami di Medan yang juga ikut menemani penjelajahan kami ke Danau Toba pada Juni 2013.

“Mba, Damay sakit.” Kata Melva. Aku shock, sedih, dan entah perasaan apa lagi yang membuatku hanya bisa menitikkan air mata ketika mendengar riwayat sakitnya yang telah memakan habis tubuh sehatnya. Foto dari Melva di awal Desember itu menunjukkan seorang Damay yang hanya bisa berbaring tak berdaya, dengan tubuh kurusnya yang membuat hati perih.

Kabar terakhir datang dari Mila Sukma Wulandari, seorang teman yang pernah sama-sama menjadi mojang Bandung dan merantau ke Medan. Kemarin Mila mengatakan kalau Damay semakin parah sakitnya. Thypus juga DBD yang menyerang sekaligus membuat ia tak sadar dan dirawat di Rumah Sakit.

Kami masih terus berdoa untuk kesembuhannya. Namun pagi ini, aku kembali shock mendengar kabar kepergiannya. Sungguh, meski Allah menyayanginya dan memberi kesembuhan abadi untuk Damay, aku masih tak ingin mempercayai kabar itu.

Damay, semoga Allah memberimu tempat terhangat, disana. Aamiin…


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post