Belajar Bersyukur

23 Jan 2015

baad58ceed9747fc4a8a280e6d714594_photogrid_1421983363607

Pagi ini, sambil menikmati secangkir teh dan bakwan untuk sarapan pagi di pantry kantor, iseng-iseng aku membuka facebook dan melihat-lihat, apa saja yang pernah kutulis di facebook selama tahun 2014? Dan aku tertarik pada status yang pernah kutulis pada 4 Juli, tulisannya begini:

Sesampainya aku di rumah setelah kerja, seperti biasa, Daffa’ & Abyan memeriksa isi tas yang biasa kubawa kerja. Disana mereka menemukan dua susu cair coklat ukuran 200ml, dan 2 bungkus mi instan.

“Bu, cuma ini?” Tanya Daffa’. Kulihat expresi wajahnya kecewa karena tak menemukan yang diharapkan.

“Iya, kenapa?” Jawabku.

“Eh, ngga papa. Harus bersyukur, kan? Maaf ya, Bu, mamas lupa” sahutnya sambil mengulum senyum.

“Bu, nanti kalo udah punya uang beliin ya energen sama roma kelapanya”

Membaca lagi status yang lumayan banyak dikomentari teman itu, membuatku kembali bersyukur pagi ini. Bersyukur karena aku dikaruniai anak-anak yang nerimo. Tidak terlalu banyak menuntut yang merepotkan orang tua.

Sebagai keluarga dengan ekonomi yang pas-pasan, aku memang harus bisa mengajari anak untuk bersyukur dengan apa yang didapat dan dimiliki. Apa jadinya jika anak-anakku tumbuh dengan mental yang segalanya harus ada ketika mereka menginginkan dan meminta paksa pada orang tua.

Sebagai contoh saja, embak yang bekerja membantu menjaga anak-anaku di rumah saat aku harus pergi bekerja. Entah sudah berapa kali embak mengeluh karena anaknya yang sudah SMA selalu memaksa jika ingin sesuatu. Ngambek dan nggak mau pergi sekolah jika keinginannya tidak dituruti. Dan yang paling parah, si anak bisa sampai marah dan membentak. Ya Allah, semoga anak si embak segera disadarkan ya, dan semoga anak-anak kita dijauhkan dari sifst demikian. Aamiin.

Menurut cerita embak, si anak bisa memiliki sifat demikian karena waktu kecil terbiasa dimanja, segalanya ada, dan kemauannya selalu dituruti. Ini karena, dahulunya keluarga embak adalah golongan orang mampu. Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Suatu hari, suami embak terkena dampak pengurangan karyawan karena Indonesia mengalami krisis ekonomi. Jadilah kondisi ekonomi keluarga mereka pun ikut terguncang. Nah, si anak yang sudah terbiasa serba enak ini, sulit untuk tiba-tiba menyesuaikan diri.

Tentu ada pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita embak dan anaknya ini. Dan kadang, dari cerita-cerita yang kudengar soal kehidupan, membuatku bersyukur bahwa aku terlahir dari keluarga yang ekonominya terbilang kurang mampu. Jadi, aku sudah terbiasa hidup susah.

Sejak kecil, orang tua yang mendidikku, selalu menanamkan nilai bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita harus berusaha terlebih dahulu. Ada perjuangan yang harus kita lakukan. Contohnya, sebagai anak petani, aku harus membantu proses menanam jagung, memupuk, mencabuti rumput dan sampai memanen, jika aku ingin dibelikan sepatu baru di tahun ajaran baru.

Orang tuaku memberikan alasan mengapa aku harus ikut melakukan itu. Katanya, setelah panen, jagung akan dijual dan mendapat uang, uang itulah yang akan digunakan untuk membeli sepatu. Jika aku tak mau membantu, maka aku tidak akan mendapat bagian dari hasil panen itu.

Dulu, aku sempat menilai ini agak terdengar kejam, tetapi setelah dewasa, baru aku bisa menyadari bahwa realita hidup ternyata jauh lebih kejam lagi.

Maka sejak dini, aku juga belajar untuk menanamkan nilai itu pada anak-anakku. Agar mereka tumbuh menjadi pribadi tangguh, yang mau berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bukan pribadi manja yang tinggal minta dan harus ada.

Cara menanamkan mental pejuang dan bersyukur.

Sebagai emak-emak yang doyan jalan-jalan, aku senang membawa anak-anak untuk pergi backpacking. Dengan jalan-jalan ala backpacker, aku menemukan banyak kesempatan untuk menyisipkan pelajaran dan nilai agar anak memiliki mental pejuang dan pandai berayukur.

Semisal suatu hari ketika kami usai menjelajahi situs purbakala Banten Lama, kami mampir ke sebuah pasar untuk makan bubur ayam. Di sela saat kami makan, Daffa’ & Abyan mogok makan karena katanya buburnya nggak enak.

Pada saat bersamaan, datang seorang pengamen cilik dengan membawa tutup botol yang dibuat sebagai kecrekan untuk senjata mengamen. Aku langsung mendapat ide untuk membuat Daffa’ & Abyan mau melanjutkan makan.

“Kalian maunya makan apa?” Tanyaku.

“Sate!” Jawab Daffa’ & Abyan kompak.

“Sana, ikut ngamen kayak anak itu. Nanti kalo udah dapet uang, kalian beli sate sendiri.” Ujarku. Daffa’ & Abyan lalu saling pandang.

“Ayo! Katanya bubur nggak enak. Ibu udah abis uangnya buat beli bubur. Ngga bisa beli sate lagi loh.” Aku mencoba memberi penjelasan lagi. Daffa’ & Abyan masih diam.

“Jadi, masih kepingin sate nggak?” Tanyaku lagi. Mereka menggeleng.

“Kalo gitu, sekarang lanjutin makannya. Bersyukur itu, makan apa yang ada. Beruntung loh kalian ngga harus ngamen dulu demi dapet makan, kayak temennya tuh!” Ujarku sambil menunjuk pada pengamen cilik yang menyanyi tak jauh dari meja kami.

Perlahan, Daffa’ & Abyan kembali meraih sendoknya dan melanjutkan makan.

Nah, itu satu contoh bagaimana caraku untuk mengajarkan agar anak tidak manja, memiliki mental pejuang dan agar pandai bersyukur. Cara ini tentu aku lakukan berulang-ulang, agar anak selalu ingat dan menjadi sebuah kebiasaan. Tidak hanya saat backpacking, di rumah pun aku biasa melakukannya. Dengan melihat contoh dari pemulung yang melintas di depan rumah misalnya.

Orang tua lain pasti punya caranya masing-masing. Boleh lho dishare, siapa tau aku bisa nyontek. ;)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post