Belajar bersama anak

31 Jan 2015

9a4b912fb1f5b01d5cf5c07c489462e8_img_20150131_084259

Disayangi dan dicintai adalah hak setiap anak. Dan sebagaimana kita tau, hak anak adalah kewajiban bagi setiap orang tuanya. Setiap ayah dan atau ibu sebagai orang tua, tentu punya cara dan gaya masing-masing untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang kepada anak. Begitu pun aku yang (katanya) seorang backpacker sejati.

Aku sudah sering sekali mengungkapkan bahwa aku ini seorang ibu yang payah jika di rumah. Tidak bisa masak dan malas mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal, cinta bisa hadir dalam semangkuk sup hangat untuk anak-anak ketika mereka merasa lapar sepulang sekolah. Atau, cinta juga bisa hadir dalam ruangan yang bersih dan wangi, untuk bercengkrama di sore hari. Hmm… Lalu, bagaimana caraku menghadirkan cinta?

Sejak 2 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk mulai mengajak kedua buah hatiku untuk traveling ala backpacker. Awalnya, cuma karena ngga tega kalo terus-terusan ninggalin anak di rumah. Tetapi lama-kelamaan aku mulai menyadari, ternyata aku bisa memberikan cinta dan kasih sayang dengan cara spontan dan lebih membekas dalam jiwa anak-anak.

Sebagai contoh, ketika kami diserang kedinginan di kaki Gunung Gede, di Cibodas, pada pertengahan tahun 2013 lalu. Aku dan kedua anakku yang umurnya masih 6 dan 4 tahun itu seperti anak kucing yang untel-untelan di pojokan warung lesehan, tempat kami menumpang tidur. Di saat seperti itu, aku benar-benar merasakan bahwa ada cinta di antara kami. Kami saling membutuhkan dan menghangatkan satu sama lain.

Pagi hari, kami dengan susah payah memaksa diri untuk bersentuhan dengan air wudhu yang dinginnya seperti es. Brr… Sebagai ibu, aku harus merayu dengan sabar, agar dua anak itu tidak terus-terusan ‘hak hik hak hik‘ (baca: merengek). Padahal jika di rumah, begini caraku membangunkan anak;

“Daffa’, Abyan, bangun! Cepet cepet! Ke masjid sana!”

Err…, ngga’ ada lembut-lembutnya sama sekali. Ibu macam apa aku ini? :D

Biasanya kalo sudah dengar kata-kata ibunya yang keras dan tegas, alias galak, anak-anak akan langsung bangun dan menjalankan instruksi. Kalo bahasa jawanya, mak gregap. Dari yang semula pada tidur pulas di balik selimut hangat di dinginnya pagi, lalu kaget, terbangun, dan ngacir ke kamar mandi trus pergi ke masjid. Kalo difikir-fikir, aku ini jahat banget ya? Hiks! :(

Iya, aku menyadari, dosaku yang berhubungan dengan sikap kasarku pada anak-anak ini sudah menggunung. Astagfirullah.

32aaecce083aa0e5b55b70ae3103a80a_image_1

Akan tetapi semenjak sering backpacking with children, aku merasakan ada cinta yang terlahir kembali. Cinta yang murni antara aku dan anak-anak. Kadang, saat melihat anak-anak begitu lahapnya menyantap sepotong burger dalam bus yang membawa kami bergerak dari satu kota ke kota lain, aku harus berulang kali beristighfar. Andai di rumah aku lebih care, pasti lebih banyak moment seperti ini yang bisa kami lewati bersama. Duduk di meja makan bersama, menyantap makanan bersama, dan melihat binar-binar bahagia di mata anak-anak.

Yang lebih menusuk hati, setiap sehabis makan, sesederhana apapun makanan yang kami santap untuk mengganjal perut ketika sedang backpacking, anak-anakku tak pernah lupa untuk berterima kasih.

“Makasih ya, Ibu, udah beliin roti.” kata mereka.

Duh Gusti…, sudah terlalu banyak waktu yang terlewat selama ini. Aku sibuk kerja sehari-hari. Malamku lebih banyak kugunakan untuk istirahat, bukan bersenda gurau bersama anak-anak.

Aku seperti robot yang menjalankan rutinitas. Terhadap anak-anak aku malah seperti polisi. Mencari apa yang masih salah, memberi tahu, dan meminta pertanggung jawaban.

Misal, jika aku membawakan oleh-oleh sepulang dari kerja, jika anak-anak lupa mengucap terima kasih setelah menerima oleh-oleh itu, aku akan bertanya; “Bilang apa?

Rupanya itu menjadi sebuah kebiasaan. Sekarang, semua kebaikan yang mereka terima, sekecil apapun, anak-anak tak lupa mengucap ‘terima kasih’. Begitu pun dalam menggunakan kata ‘tolong‘ saat membutuhkan bantuan, dan selalu meminta ‘maaf‘ jika melakukan kesalahan.

Aku berharap, mereka melakukan itu bukan karena takut pada ‘polisi galak’, alias aku, ibunya.

2856b292ba2e868f55710ce8232754a6_image_2

Dan semua pelajaran yang sudah kudapat saat backpacking bersama anak-anak, bisa menjadi bahan renungan, dan menjadi kekuatan untukku berubah lebih baik. Menjadi ibu yang tak bosan untuk terus belajar. Aamiin…

Karena Anakku, Tiket Surgaku…

c1fdfb1e7515da3fd3d9a949e4688968_photogrid_1422671152333


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post