Iklas dan Selalu Optimis

2 Feb 2015

630af87d5784f6b00a5942a04df94242_photogrid_1422842739170

Masa remaja katanya adalah masa transisi. Biasanya ketika usia SMP. Yaitu masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa paling labil dan penuh kebimbangan. Hati dan fikiran biasanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Terutama mereka yang memiliki latar belakang begitu rumit. Seperti aku.

Masa SMP dulu, aku sering tiba-tiba menangis. Saat di kantin sekolah, di dalam kelas, saat mengaji di surau, atau bahkan saat sedang bermain bersama teman. Tentu saja ini membuat teman-temanku bingung. Dan lama-lama, mereka menjauh. Maka wajar saja jika aku sulit berteman. Aku nggak asik!

Iya, dulu aku sangat membenci hidupku. Aku merasa Tuhan nggak adil. Kenapa orang tuaku bercerai sejak aku bayi? Kenapa aku diasuh oleh kakekku yang mantan Tentara Keamanan Rakyat dari jaman PKI? Dengan gaya militerisme yang keras. Kenapa aku jelek? Kenapa miskin? Kenapa? Kenapa?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sakit. Kadang untuk melupakannya, aku menyibukkan diri dengan bersepeda keliling kampung masuk hutan. Mencuri rambutan di kebun orang, dan langsung makan di pohonnya. Jika ada orang yang menyinggung, tak segan aku tantang berantem. Jika ada yang menasehati agar aku tidak galak dan jutek, aku berkilah, itu self defense. Jangan mengangguku jika tak ingin diganggu. Begitu aku berargumen.

Astagfirullah… Jika mengingat masa itu, aku malu. Lalu, bagaimana caraku untuk bisa berdamai dengan diri sendiri?

Usai lulus SMP, aku kabur dari kampungku yang namanya bahkan tak tertulis di peta Lampung. Saking terpencilnya. Aku pergi ke kota, mencari sekolah negeri yang bagus. Aku harus berubah supaya orang tak meremehkanku lagi di kampung. Eh, tapi apa iya kebanyakan teman nggak mau main denganku karena meremehkanku? Jangan-jangan perasaanku saja ya?

Di SMA, aku kembali menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Pramuka, Paskibra, PMR, Rohis, bahkan juga les menari. Tak kuijinkan sedikit pun waktuku menjadi luang dan membuatku kembali memikirkan nasib burukku. Aku capek menjadi cengeng.

Berhasil! Setiap hari aku seperti orang kerja kantoran yang pergi pagi pulang petang. Bedanya, aku bukan mencari uang, tapi mencari kesibukan untuk membuang kelebihan energi. Aku menikmati kegiatan hiking saat latihan pramuka, baris berbaris saat latihan paskibra, atau mengotong-gotong pasien pura-pura dengan tandu saat praktek P3M (Pertolongan Pertama Pada Musibah) di latihan PMR.

Semua kegiatan itu benar-benar menguras energi sehingga pada malam hari aku sudah kelelahan dan tidur nyenyak sampai pagi menjelang. Jadi aku tak sempat memikirkan rasa benciku terhadap takdir yang sering kukutuk sedari kecil.

9d99ad5150524e7e7dbf12fe5fbb9f2e_170516_192350614110369_6528876_o

Tetapi yang paling membuatku berkesan adalah saat mengikuti kegiatan ROHIS. Muatan agama membawaku pada jalan cahaya. Aku mendapat hidayah untuk menutup aurat. Pengajian rutin yang berisi nasehat-nasehat religius memberi kesejukan dalam hati. Perlahan namun pasti, aku mulai melihat hidup dari sisi yang berbeda. Bahwa kita memang tidak bisa memilih dari mana kita berasal, tetapi kita bisa menentukan, akan menjadi manusia seperti apa di masa sekarang dan masa depan. Aku belajar ikhlas.

Sekarang, aku masih terus berusaha menjalani hidup dengan iklas dan damai. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa aku hanya manusia yang kadang lupa. Dan sifat ambisius dalam diriku mungkin sudah bawaan lahir. Ketika ada keinginan yang tidak dapat kuraih, kadang aku merasa down. Kecewa yang berlebihan.

Seperti yang kualami beberapa waktu lalu, ketika aku memenangkan sebuah kompetisi berhadiah jalan-jalan ke India. Aku tidak dapat mengambil kesempatan itu karena panitia lomba tidak mengijinkan perempuan hamil untuk ikut dalam kegiatan traveling dalam jangka waktu yang lumayan lama, 2 minggu.

Hatiku sakit sekali mendapat jawaban panitia itu. Selama berhari-hari aku masih belum bisa iklas. Aku sering menangis sendirian. Kalimat “Allah punya rencana lebih indah”, bahkan tak dapat menenangkanku. Oh, aku kehilangan kesempatan!

Kemudian di satu malam aku merenung sendirian. Aku berdialog dengan diri sendiri. Dan aku mendapat sebuah jawaban, bukan aku namanya jika tidak optimis. Jika tak bisa ke India dengan gratis, aku akan tetap pergi meski dengan biaya sendiri. Suatu hari nanti. Pasti! Aku harus bangkit, dan berusaha kembali untuk mewujudkan impian keliling dunia. Aku pasti bisa, ada Dia! :)

*****

“postingan ini untuk mengikuti giveaway echaimutenan”


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post