Dilema Sepatu Roda

27 Feb 2015

92d17075062156c0171fdb48589f35fc_photogrid_1425011842035

Kemarin sore aku merasa agak terkejut sekaligus kesal. Saat menyusuri jalanan komplek menuju rumah sepulang kerja, aku melihat seorang anak perempuan yang amat kukenal sedang asik bermain dengan sepatu roda barunya, di jalanan komplek perumahan yang sudah ditutup paving block. Ya, akhir-akhir ini sepatu roda memang sedang trend.

Apa yang membuatku kesal sebenarnya? Anak itu adalah anak tetanggaku. Jarak rumah kami hanya terpisah beberapa rumah saja di gang yang sama. Bisa dibilang, aku tahu betul bagainana kondisi keluarga tetanggaku ini, karena kami pernah dekat. Ibunya, jadi sering curhat.

Dari curhatan itu kemudian aku mengetahui banyak hal. Soal suaminya yang berprofesi sebagai supir dan penghasilan tak menentu. Ekonomi keluarga yang kekurangan. Soal anak-anak dengan kebutuhan segudang. Sampai perselisihan rumah tangganya pun diceritakan padaku.

Ibu ini juga sering meminjam uang. Jumlahnya memang tak banyak. Dan seringkali mendadak. Misal, subuh-subuh mengetuk pintu untuk pinjam uang karena kepepet tidak ada ongkos untuk sekolah dan uang jajan anak. Terakhir kali sebelum kami mulai renggang, ia meminjam uang padaku dalam jumlah lumayan. Katanya, untuk membayar biaya masuk sekolah anaknya yang lumayan mahal di SLTA. Setelah itu, entah, kenapa ia tak pernah lagi datang ke rumah sekedar untuk ramah tamah.

Sebenarnya, ingin sekali aku melupakan seberapa banyak ia pinjam uang dan belum kembali. Toh, meski kondisiku juga kurang mampu, dia malah lebih kurang lagi. Tapi kadang, saat melihat kantong berasku kosong, uang tak punya, atau ketika anak-anakku begitu tabahnya setiap hari hanya makan nasi dengan lauk tempe, disitu saya merasa sedih. Halagh.

Maaf karena aku harus nggerundel. Beli sepatu roda bisa kok bayar utang enggak bisa? Padahal kan ya, utang harusnya jadi prioritas.

Disitu sempat tetfikir untuk menagih hutang. Tetapi tetap saja kuurungkan niat. Masih bisa menahan diri. Masih kepikiran, gimana kalau dia juga lagi susah? Gimana kalo beli sepatu roda juga hasil ngutang? Gimana kalo dia terpaksa beli sepatu roda karena anaknya ngamuk. Ngga mau makan, nggak mau sekolah kalo ngga dibelikan sepatu roda. Yap, lewat banyak curhatannya juga aku tau kalo anaknya suka ngambekan. Disitu saya seketika sedih, eh bersyukur. Hehe.

Iya, aku bersyukuuuuurrr banget karena anak-anakku adalah anak-anak yang nerimo. Ngga suka ngamuk minta sesuatu. Kalo udah kepingiiin banget, paling mereka bilang gini, “Ibu, kalo nanti ibu punya uang, beliin itu ya!” Kalo udah gini, aku cuma bisa senyum dan mengiyakan. Tapi tetep aku kasih pengertian. “Iya, nak. Sabar ya. Makanya doain ibu banyak rejeki. Jadi anak soleh dan nurut ya!” jawabku. Trus mereka angguk-angguk. Malah kadang jawab gini, “Aku mau solat ke mesjit tiap hari, dan doain ibu!”

Alhamdulillah. Semoga selalu begitu, jadi anak baik dan soleh. Yang selalu membahagiakan orang tuanya. Aamiin.

Nah tapi, saking nerimonya anak-anakku ini, aku sering terenyuh. Sedih. Pingin juga belikan mereka apa-apa yang lagi trend. Karena mau ngga mau, setiap hari mereka cuma bisa nonton. Iya, nontonin anak-anak tetangga. Jadi keinget jaman baheula. Waktu aku kecil juga sama lah. Orang main game boat, aku nonton doang. Orang punya sepatu kelap kelip berlampu, aku gigit jari aja. De el ell. De el el.

Lalu solusine piye saiki? Hehe, Alhamdulillah lagi, aku dikaruniai badan sehat. Aku masih bisa usaha, cari duit tambahan buat beliin sepatu roda. Bismillah… Soon ya nak. :)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post