Camilan untuk sarapan

3 Mar 2015

5729166c87372d48c0e8051411aa8750_photogrid_1425348062397

Hai, hai, apa sarapanmu pagi ini? Kalau di keluargaku, sudah bisa dipastikan sarapannya camilan. Sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil, di keluargaku, makanan yang disajikan untuk sarapan bukanlah makanan berat. Nanti setelah ngemil, baru deh emak masak buat makan pagi (jam 10-11 pagi), makan siang (jam 2-3 sore) & makan malam.

Rupanya, kebiasaan itu terbawa hingga di keluarga kecilku yang sekarang. Kue-kue atau camilan itu bisa berupa bakwan, tempe goreng, ubi, singkong, pisang, atau kentang. Seringnya sih goreng-gorengan. Hanya sesekali kalau lagi kepingin, ubi-ubian dan pisang bisa dikukus atau rebus. Dan seringnya, aku menyiapkan sendiri sarapan itu. Lebih tenang karena ngga harus kuatir sama yang namanya pengedap rasa yang biasa digunakan para pedagang di luaran sana. Atau soal minyak goreng yang menghitam karena dipakai berulang-ulang.

Pagi ini, sarapan kami adalah bakwan ubi dan teh hangat. Kebetulan, stok susu sedang habis, jadi anak-anak ikut minum teh. Teh seolah menjadi minuman wajib buatku di pagi hari. Aku suka teh dan senang mencoba berbagai jenis teh. Teh yang kusajikan pagi ini adalah teh ala kampung pemberian seorang sahabat. Intan namanya. Dia juga yang sudah meracuni aku untuk jatuh cinta pada teh.

Balik lagi soal gorengan. Hari minggu lalu aku coba-coba membuat cireng. Gara-gara nonton TV yang kebetulan sedang mengulas usaha cireng bumbu rujak. Dasar bumil, aku jadi ngiler. Daripada beli di mamang gorengan dan merasa was-was saat makan, jadi iseng lah googling resep cireng, dan bikin sendiri.

a818cf79d5c5051ad636025264b8403b_photogrid_1425348245639

Dan, tara… Ini cireng buatanku. Menurutku sih enak-enak aja, tapi suamiku bilang rasanya kurang sip. Aah, itu sih karena lidahnya sudah biasa ditipu sama msg aja kali ya. Jadi kalo makan makanan tanpa msg selalu dibilang ngga enak. Haha :D *pembelaan.

Tapi rasa cireng yang kata suami kurang sip itu bisa dilebur dengan sambal petis. Pokoknya buatku mah enak-enak aja lah. Teteup, muji diri sendiri.

Dan ini resep cireng ala Nurul Noe.

- 200 gram Aci (aku beli seperempat kilo dan disisain dikit untuk taburan adonan biar ngga lengket)
- 4 siung bawang putih, haluskan
- 4 batang daun bawang, iris-iris
Garam secukupnya.

Cara membuat:

1. Biang Cireng
- Ambil sekitar 50 gram aci, masukan panci dan campur dengan segelas air, kira-kira 200ml. Aduk hingga aci larut.
- Masak biang cireng dengan api kecil. Selama dimasak, aduk-aduk hingga mengental. Angkat.

2. Adonan Cireng
- Masukkan (150 gram) aci ke dalam baskom, campur bawang putih, daun bawang, dan garam.
- Masukkan biang cireng ke dalam adonan, dan uleni sampai semua bahan tercampur dan kalis.
- Bentuk adonan menjadi cireng bulat pipih, dan gulirkan ke dalam sisa aci sebelum digoreng, agar tidak lengket.
- Goreng deh cirengnya.

874eaa563dc86435f28c3804a3e4bf2d_photogrid_1425348623679

Haha, ini iseng banget nulis resep. Jago masak aja ngga. Tapi gapapa lah ya, namanya juga lagi ketiban mood masak plus blogging. Bukan kah ide menulis itu bisa datang dari mana saja? Dan semoga ada hububgannya nih, antara kehamilan dan tiba-tiba rajin ke dapur. Aamiin. *ngarep ;)

By the way, dari banyak situs online, aku juga membaca bahwa sarapan gorengan plus kopi bisa meningkatkan resiko diabet dan jantung. Meh! Tapi gimana dengan teh? Sama kah bahayanya? Di googling ngga ada sih yang nyinggung teh.

Yeah, aku memang belum menerapkan pola makan sehat. Tapi sedang mengupayakan juga untuk rajin mengkonsumsi buah. Nah, pagi-pagi banget, alias subuh, sambil nyiapin goreng-gorengan itu, biasanya aku sambil ngemil buah. Entah itu pepaya, melon, manggis, mangga atau buah apa aja. Bahkan kalau lagi musim rambutan, ya ngemil rambutan. :D


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post